Selasa, 10 Januari 2012

MAJALIS 'ILMI SYAR'IY KALIMANTAN BARAT

" Yang Manfa'at Tetap Exist "

Jadwal Kajian 'Ilmiyyah di Kalimantan Barat
Bersama Abu Unaisah Jabir bin Tunari hafidzohulloh

1. Materi : Fat-hul Majid Lisyarhi Kitabit Tauhid
Waktu : Setiap Jum'at, Ba'da Sholat Isya / jam 20 : 00 WiB
Tempat : Surau Al Hidayah, Jl. Imam Bonjol Gg. Kusuma Wijaya

2. Materi : Tafsir Ibnu Katsir Juz 28
Waktu : Setiap Sabtu, Ba'da Sholat Isya / jam 20 : 00 WiB
Tempat : Surau Al Hidayah, Jl. Imam Bonjol Gg. Kusuma Wijaya

3. Materi : 1. Bahjatun Nadzirin Syarh Riyadhush Sholihin
2. Tashilul Ilmam Syarh Bulughul Marom
3. Tasmi' & Tahsin bacaan Al Qur'an
Waktu : Setiap Ahad, Ba'da Sholat Ashar / jam 16 : 00 WiB
Tempat : Sakan Madrasah Manarus Sunnah, Jl. Imam Bonjol Gg. Munaf no. 44
Ket. : Kajian 1 - 2 juga untuk Umahat & Akhowat, kajian 3 khusus Ikhwan

4. Materi : 1. Kifayatul Akhyar Syarh Taqrib fie Fiqh Syafi'iyyah
2. Tsalatsatul Ushul Wa Adillatuha
3. Kajian tematik Aqidah
Waktu : Kamis & Jum'at setiap pekan ke 3 / bulan, ba'da Maghrib & Isya
Tempat : 1. Surau Al Ikhlas, Ds. Kawat, Kec. Tayan, Kab. Sanggau
2. Masjid Agung Kab. Sanggau

5. Materi : Mukhtashor Kitab Al Iman, Shohih Muslim
Waktu : tiga bulanan sekali Jum'at - Ahad
Tempat : Masjid Al Falah, Mulia Baru Kab. Ketapang

RAHASIA - RAHASIA INDAH DIBALIK PERNIKAHAN

Berkata Asy Syaikh Ahmad Ibnu Qudamah Al Maqdasiy rohimahulloh : “ Para ulama tidak berbeda pendapat bahwa menikah adalah mustahab, dianjurkan untuk dikerjakan lagi penuh dengan fadhoil serta didalamnya tersimpan beragam faedah :

Diantaranya, anak ; sebab maksud dari pernikahan adalah mempertahankan keturunan yang didalamnya terkandung sekian faedah cinta dari Alloh dengan sebab upaya yang dia tempuh dalam hal tersebut agar jenis manusia ini tetap ada, didalamnya juga terkandung upaya mengejar cinta dari Rasululloh sholallohu ‘alaihi wasallam didalam memperbanyak umat yang ini adalah kebanggaan beliau, didalamnya juga terkandung upaya meraih doa dari anak yang shalih serta syafaat dari anak yang meninggal dikala kecil.

Diantara fawaid menikah, membentengi diri dari syaitan melalui upaya menghalau penyesatan syahwat, dan didalamnya tersimpan pengistirahatan jiwa serta keakrabannya dengan melalui bergaul dengan sang pasangan.

Diantaranya, mengosongkan hati dari mengurus rumah serta dari beban – beban pekerjaan rumah, kesibukan memasak, menyapu, menata kamar tidur, mencuci alat makan dan menyiapkan pekerjaan yang menjadi jalan penghidupannya, dimana bahwa seseorang akan kerepotan dengan menjalani kesemua itu sendirian yang andaikan dia banyak terbebani hal – hal diatas niscaya akan banyak memakan waktunya sehingga dia tidak akan berkonsentrasi untuk ilmu dan amal shalih, maka isteri yang shalihah adalah seorang pembantu keshalihan agama dia dari jalan ini, sebab kesibukan terhadap hal – hal diatas merupakan kesibukan yang mengganggu hati.

Dan diantara fawaidnya juga, mujahadah jiwa serta pelatihan jiwa melalui pekerjaan mengurus, memimpin, menunaikan hak – hak keluarga, sabar menghadapi tingkah laku mereka, sabar menanggung gangguan dari mereka, berusaha untuk memperbaiki mereka dan membimbing mereka kepada ajaran agama dan bersungguh – sungguh dalam mencari rizki yang halal untuk menghidupi mereka serta mendidik anak – anak, semua ini adalah amal – amal yang agung keutamaannya sebab ia adalah pekerjaan mengurus dan memimpin sementara keutamaan mengurus adalah sangatlah besar, hanyalah menghindar darinya : seorang yang khawatir tidak cakap dalam menunaikan hak – hak yang diurus serta orang yang khawatir akan menyejajarkan isteri dan anak dengan kedudukan jihad fie sabilillah ”._ [ kitab Mukhtashor Minhajil Qoshidien, Ahmad Ibnu Qudamah, Al Maktab Al Islamiy, Beirut, 1421 ]

والله أعلم وصلى الله على محمد وآله وسلم والحمد لله

Jumat, 06 Januari 2012

STATUS HUKUM ORANG MENINGGALKAN SHOLAT DALAM FIKIH SYAIKH IBNU BAZ

Berkata Al ‘Allamah Abdul ‘Aziz Ibnu Baz رحمه الله : “ hadits yang berbunyi : “ perjanjian yang ada antara kita dengan mereka adalah sholat, barang siapa meninggalkannya maka dia telah kafir ” ditakhrij oleh al Imam Ahmad dan para penyusun kitab sunan dengan sanad yang shohih dari sahabat Buraidah rodhiyallohu ‘anhu ”. ( 10 / 234 ) dan “ barang siapa yang meninggalkan sholat karena malas meskipun tidak mengingkari akan wajibnya sholat maka dia kafir dengan kekufuran yang besar ”. ( 10 / 236 ) dan “ ini adalah kemurtadan dari Islam ”. ( 10 / 237 ) dan “ seorang lelaki muslim yang menjalankan sholat lagi tidak ada dalam dirinya sesuatu perkara yang mengharuskan ia kafir, jika ia menikahi seorang wanita yang tidak menjalankan sholat maka nikahnya adalah batal, demikian pula sebaliknya ”. ( 10 / 242 ) dan “ yang wajib atas penguasa kaum muslimin agar mereka memerintahkan kepada orang yang meninggalkan sholat untuk bertaubat, jika ia bertaubat maka diterima namun jika tidak mau bertaubat maka dieksekusi ”. ( 10 / 258 ) dan “ satu sholat atau sepuluh sholat, apabila seseorang meninggalkannya dengan sengaja hingga habis waktunya semisal meninggalkan sholat shubuh hingga matahari terbit maka dia telah kafir ”. ( 29 / 179 ) dan “ dalam pendapat yang benar dari pendapat – pendapat para ulama bahwa barang siapa dari kalangan orang – orang yang mukallaf yang mati dalam keadaan dia hidup meninggalkan sholat maka dia kafir, mayatnya tidak perlu dimandikan, tidak perlu disholati, tidak boleh dikubur dipemakaman muslimin dan para kerabatnya tidak boleh mewarisi harta warisannya namun harta peninggalannya adalah untuk baitul mal kaum muslimin ”. ( 10 / 250 ) dan “ seorang yang meninggalkan sholat maka tidak boleh dihajikan untuknya dan tidak boleh pula dishodaqohkan atas nama dia, sebab dia kafir ”. ( 10 / 251 ) dan “ seorang yang meninggalkan sholat maka tidak boleh dijadikan kawan demikian juga orang – orang kafir selain dia ”. ( 10 / 260 ) dan “ jika benar keadaan saudara anda seperti apa yang anda sebutkan yaitu dia malas menjalankan sholat dan bahkan terkadang meninggalkannya maka anda tidak boleh berhaji untuknya tidak pula bershodaqoh atas nama dia dan tidak boleh juga anda berdoa kebaikan untuknya ”. ( 15 / 358 ) dan “ yang wajib adalah menghajer orang yang meninggalkan sholat, memutus hubungan dengannya dan tidak menghadiri undangannya hingga dia bertaubat kepada Alloh dari hal itu ”. ( 10 / 266 ) dan “ tidak boleh memakan sembelihan orang yang meninggalkan sholat ”. ( 10 / 272 ) dan “ apabila anak – anak laki – laki serta perempuan diperintah untuk menjalankan sholat dalam usia mereka tujuh tahun dan mesti dipukul jika meninggalkannya dalam usia mereka sepuluh tahun maka seorang yang sudah baligh lebih utama akan wajibny diperintah untuk sholat serta mesti dipukul jika meninggalkannya dengan disertai nasehat yang berkelanjutan ”. ( 10 / 288 ) dan “ wanita yang tidak menjalankan sholat maka wajib untuk diminta bertaubat serta diberi pelajaran sehingga dia menjalankan sholat, barang siapa yang bertaubat niscaya Alloh memberikan taubat kepadanya namun jika ia enggan untuk bertaubat maka hendaknya dilaporkan kepada mahkamah sehingga pihak mahkamah akan memerintahkan taubat kepadanya, jika ia bertaubat maka diterima namun jika tidak maka dia dieksekusi mati dalam keadaan sebagai seorang yang murtad dari Islam ”. ( 10 / 290 ) dan “ seorang istri yang tidak menjalankan sholat maka wajib atas suaminya untuk menjauhinya hingga istrinya tersebut bertaubat dan memperbaharui akad nikahnya kembali setelah taubatnya, sedangkan anak – anaknya dari istri tersebut maka ikut sang bapak disebabkan adanya kesamaran nikah ”. ( 10 / 290 ) dan “ taubat adalah dengan cara mengakui apa yang dia ingkari serta dengan mengamalkan apa yang dia tinggalkan, apabila kafirnya adalah sebab menginggalkan sholat maka taubatnya adalah dengan menjalankan sholat diwaktu kedepannya disertai dengan penyesalan atas perbuatannya dan tekat kuat untuk tidak mengulanginya kembali ”. ( 10 / 319 )_ selesai dari [ kitab Al Ikhtiyarot Al Fiqhiyyah Fie Masail Ibadat wal Mu’amalat Min Fatawa Samahatil Allamah Al Imam Abdul Azizi bin Abdillah bin Baz, disusun oleh Kholid Al ‘Ajmiy ( 47 – 50 ) ]

MENARA SUNNAH KHATULISTIWA

Artikel-artikel islam ilmiyah dalam Bahasa Indonesia ataupun Bahasa Arab, Insya Allah diasuh oleh Abu Unaisah Jabir bin Tunari