Minggu, 27 Februari 2011

MANHAJ SALAFY : TEGAS TERHADAP PENGEKOR KESESATAN

Berkata al Imam Ibnu Abi Zamanin al Andalusiy rohimahulloh : “ Ahlus Sunnah masih senantiasa menyingkap aib – aib para pengekor bid’ah yang menyesatkan, mereka melarang dari bermajelis dengan mereka, mereka juga menakut – nakuti manusia dari fitnah mereka, mereka juga memberitakan kepada manusia penyelisihan mereka terhadap kebenaran, mereka tidak menilai bahwa hal – hal tersebut sebagai gunjingan atas mereka, tidak pula sebagai celaan atas mereka ”.[ Kitab Ushulus Sunnah Libni Abi Zamanin ( 224 ) ]
Berkata al Imam Abu Muhammad al Barbahariy rohimahulloh : “ Jika kamu melihat sekilas bid’ah dari seseorang maka berhati – hatilah darinya, sebab bid’ah yang tersembunyi dalam dirinya dari pandanganmu tentu lebih banyak dibandingkan yang nampak !”.[ Syarhus Sunnah (28) ]
Beliau juga berkata : “ Sufyan ats Tsauriy berkata : barang siapa mengarahkan pendengarannya kepada pemilik bid’ah niscaya dia telah keluar dari penjagaan Alloh dan diserahkan kepada bid’ah tersebut. Fudhail bin Iyadh berkata : barang siapa yang bermajelis dengan pemilik bid’ah maka dia tidak akan diberi hikmah. Beliau juga berkata : jangan kamu bermajelis dengan pemilik bid’ah sebab aku khawatir akan turun kepadamu laknat ! ”.[ Syarhus Sunnah (31) ]
Berkata Syaikhul Islam Abu Utsman ash Shobuniy rohimahulloh : “ Ahlul Hadits, mereka membenci ahli bid’ah yaitu orang – orang yang membuat perkara baru dalam dien dari perkara yang bukan termasuk dien, Ahlul Hadits tidak menyukai mereka, tidak berkawan dengan mereka, tidak menyimak ucapan mereka, tidak bermajelis dengan mereka dan tidak mendebat mereka dalam perkara – perkara dien ”.[ Aqidatus Salaf (82) ].
Perhatikanlah rohimakumulloh ! bagaimana para imam menegaskan manhaj Salaf dalam bersikap terhadap ahlil bida’ para pengekor nafsu. Bahkan manhaj diatas adalah perkara yang telah disepakati.
Berkata al Imam al Baghowiy rohimahulloh : “ Para sahabat, para tabi’in dan pengikut mereka serta para ulama sunnah mereka berjalan diatas hal ini, mereka bersepakat untuk memusuhi ahli bid’ah dan untuk memboikot mereka ”.[ Syarhus Sunnah (1/227) lihat Manhaj Ahlus Sunnah Fie Naqdir Rijal ]
Tiadalah para salaf yang sholih merasa berat hati dari mendengar celaan terhadap bid’ah dan ahli bid’ah, tidak pula sempit hati. Para Salaf yang sholih mereka cerdas akan akibat buruk dari bid’ah dan ahli bid’ah.
Berkata al Imam Mujahid rohimahulloh : “ Aku tidak mengerti, manakah ni’mat yang lebih besar bagiku dari dua ni’mat ini yaitu aku mendapat hidayah kepada Islam ataukah aku diselamatkan dari berbagai bid’ah ”.
Berkata al Imam Abul ‘Aliyah rohimahulloh : “ Aku tidak mengerti, manakah ni’mat terbesar bagiku dari dua ni’mat ini yaitu ni’mat selamat dari syirik atau ni’mat diselamatkan dari bid’ah khowarij ”. [ keduanya diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Zamanin (233) ]
Bagaimana tidak rohimakumulloh ! inilah bahaya bid’ah yang para salaf telah selamat darinya, simaklah !
Berkata al Imam Muhammad bin Wadhoh rohimahulloh dengan sanadnya sampai kepada al Imam Hasan al Bashriy rohimahulloh katanya : “ Jangan kamu bermajelis dengan ahli bid’ah sebab ia akan membuat hatimu berpenyakit !”.[ kitab Tahdzir Min Ahlil Bida’ (28) ]
Beliau juga meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada al Imam Abu Qilabah rohimahulloh, katanya : “ Jangan kalian bermajelis dengan para pengekor bid’ah dan jangan pula kalian berdebat dengan mereka ! sebab sesungguhnya aku meresa khawatir mereka akan menenggelamkan kalian dalam kesesatan mereka atau mereka merancukan kebenaran yang telah kalian ketahui ”.[ Tahdzir (29) ]
Berkata al Imam Abu Muhammad al Barbahariy rohimahulloh : “ Ketahuilah ! bahwa bid’ah – bid’ah seluruhnya adalah hina, seluruhnya menyeru kepada pedang namun yang paling hina serta paling kufur adalah rowafidh, mu’tazilah dan jahmiyyah sebab mereka menginginkan agar manusia berada diatas ajaran mengingkari sifat – sifat Alloh dan kezindikan ”.[ Syarhus Sunnah (28) ]
Berkata Syaikhul Islam Abu Utsman rohimahulloh : “ Ahlul Hadits berpandangan untuk menjaga pendengaran mereka dari kebatilan – kebatilan ahli bida’ yang jika kebatilan – kebatilan tersebut lewat dalam telinga – telinga niscaya ia akan menancap dalam hati kemudian mengalirlah kedalam hati tersebut berbagai was – was serta bisikan – bisikan yang merusak dien seseorang ”.[ Aqidatus Salaf (82)]
Padahal rohimakumulloh ! setiap bid’ah adalah memiliki dampak khusus yang buruk bagi Islam dan umat Islam, perkara yang panjang untuk dipaparkan disini, namun cukuplah bagi yang memiliki kewaspadaan terhadap Islam untuk lapang dada menerima manhaj Salaf dalam menyikapi bid’ah dan pengekornya, jangan ia sempit dada atau bahkan sibuk berfikir menyiapkan kaedah – kaedah baru yang ( sadar atau tidak ) melindungi & membela para pengekor bid’ah, wallohul musta’an.
Al Imam Ibnu Wadhoh rohimahulloh meriwayatkan sebuah atsar : “ Barang siapa yang memberikan tempat kepada ahlul bi’ah maka berarti ia telah membantunya dalam menghancurkan Islam ”.[ Tahdzir (29) ]

MANHAJ SALAFY DALAM TAUHIDULLOH

Berkata Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim rohimahulloh :
فصل في بيان توحيد الأنبياء والمرسلين ومخالفته لتوحيد الملاحدة والمعطلين
[ Ini adalah pasal yang menjelaskan akan tauhidnya para Nabi dan Rosul dan penjelasan bahwa tauhid mereka adalah menyelisihi tauhidnya para orang – orang yang menyimpang serta orang – orang yang menafikan dalam nama – nama dan sifat Alloh ]
Kemudian setelah memberikan sajak pengantar maka beliau berkata :
توحيدهم نوعان قولـي وفعـ *** لـي كلا نوعيه ذو برهان
[ tauhid mereka ada dua macam ; qouliy dan fi’liy
Kedua macamnya ini memiliki dalil nan bukti ] kemudian beliau rohimahulloh merincikan tauhid bentuk pertama dalam sajak – sajak berikutnya.
Penjelasan : Berkata al ‘Allamah Asy Syaikh Sholih al Fauzan hafidzohulloh : “ Tauhidnya para Nabi dan Rosul ada dua macam yaitu qouliy ( ucapan ) dan amaliy ( perbuatan ), tauhid qouliy ia adalah tauhid rububiyyah dan asma’ was sifat sedang tauhid amaliy maka ia adalah tauhid uluhiyyah ”.[ Ta’liq Mukhtashor ( 757 ) ]
Selanjutnya Syaikhul Islam rohimahulloh berkata :
فصل في النوع الثاني من نوعي توحيد الأنبياء والمرسلين
المخالف لتوحيد المعطلين والمشركين
[ Ini adalah fasal yang menjelaskan macam yang kedua dari dua macam tauhidnya para nabi dan rosul yang menyelisihi tauhidnya orang – orang yang menafikan nama dan sifat Alloh serta orang – orang musyrik ]
هذا وثاني نوعـي التوحيد تو *** حيد العبادة منك للرحمن
ألا تكون لغيره عبدا ولا *** تعبد بغير شريعة الإيمـــان
[ Inilah, dan keduanya dari dua macam tauhid adalah
Tauhid ibadah darimua untuk Dzat Maha Rohmah
Kamu tidaklah menjadi hamba untuk selainNya
Dan jangan kamu beribadah kecuali dengan syari’at iman ]
Penjelasan : Berkata al ‘Allamah Asy Syaikh Sholih al Fauzan hafidzohulloh : “ Telah berlalu bahwa nadzim menyebutkan ; tauhid ada dua macam yang secara globalnya adalah : 1 – Tauhid rububiyyah serta nama – nama dan sifat Alloh, disebut pula dengan tauhid ilmiy khobariy, beliau telah menyebutkan lawannya yaitu menafikan dan menyimpangkan nama – nama serta sifat – sifatNya. Sekarang beliau berpindah kepada penjelasan macam kedua yaitu 2 - tauhid amaliy, ia adalah tauhid dalam tholab wal qoshd ( meminta dan memaksudkan amal ), ia juga tauhid uluhiyyah, dan beliau menyebutkan lawannya yaitu syirik sebagaimana yang akan datang penjelasannya ”. Kemudian beliau hafidzohulloh mejelaskan sajak kedua dengan pernyataannya : “ Jangan kamu beibadah kecuali hanya kepada Alloh dan jangan kamu beribadah kecuali dengan syari’ahNya melalui lisan nabinya yaitu Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam, sehingga tauhid ibadah tidak akan sah melainkan dengan dua syarat ini yaitu 1 – keikhlasan kepada Alloh didalam niatan dan tujuan, dan yang ini adalah menafikan syirik. 2 – mengikut serta meneladani rosul sholallohu ‘alaihi wasallam didalam amalan, dan yang ini adalah menafikan berbagai kebid’ahan dan perkara baru …”.[ Ta’liq Mukhtashor ( 824 ) ].
Berkata al ‘Allamah Asy Syaikh Abdurrohman bin Nashir as Si’diy rohimahulloh : “ Kaedah Asasi yang pertama adalah Tauhid. Pengertian tauhid yang mencakup seluruh macamnya adalah seorang hamba meyakini dan mengimani kekhususan Alloh akan sifat – sifat yang sempurna dan mengkhususkanNya dengan segala bentuk ibadah. Tercakup dalam pengertian ini adalah Tauhid Rububiyyah yang artinya adalah meyakini keesaan Alloh dalam mencipta, memberi rizki dan dalam segala bentuk pengaturan. Tauhid Asma was Shifat yaitu menetapkan untuk Alloh segala apa yang Alloh tetapkan untuk diriNya dan apa yang ditetapkan oleh rasulNya bagiNya dari berupa segala nama yang nilainya dipuncak keindahan serta segala sifat yang sempurna lagi tinggi tanpa ada unsur menyerupakan atau menyamakan dan tanpa pula menyimpangkan atau manafikan. Tauhid Uluhiyyah dan Ibadah yaitu mengkhususkan Alloh satu - satuNya dengan segala jenis dan macam ibadah tanpa ada kesyirikan dalam satu bentukpun dari ibadah disertai dengan meyakini kesempurnaan hakNya untuk diibadahi ”.[ Mukhtashor Ushul Aqoid dari ]
Perhatikanlah rohimakumulloh ! akan kaedah asasi dari kaedah – kaedah manhaj salafy diatas, jangan kalian terkecohkan atau bahkan terpengaruh oleh kaedah baru yang disalafiyyahkan secara paksa bahwa pembagian tauhidulloh diatas adalah pembagian yang bid’ah dengan dalih bahwa para salaf yang sholih tidak menyabutkan pembagian macam demikian !
Untuk meruntuhkan kaedah baru yang dislafiyyahkan secara paksa diatas maka kalian perlu mengetahui manfaat dan fungsi dari pembagian tauhidulloh diatas, dengan demikian kalian biidznillah akan mengetahui kejahilan pencanang kaedah baru tersebut terhadap manhaj para salaf yang sholih, wallohul muwaffiq.
Berkata Asy Syaikh Al Fadhil Abdurrohman bin Nashir al Barrok ( murid senior al Imam Ibnu Baz rohimahulloh dan mantan dosen akidah di Univ. Imam Muhammad Su’ud di Riyadh ) hafidzohulloh : “ Manfaat dan fungsi dari pembagian tauhidulloh. Pembagian tauhid ini diambil dari kitabulloh dan sunnah didapati dengannya pemabagian perbedaan kelompok manusia, diantara mereka ada yang kufur terhadap macam – macam tauhid ini seluruhnya seperti orang – orang ateis dan filosofis, diantara mereka ada yang menetapkan sebagian macam tauhid namun kufur atas sebagian macam yang lain dari macam tauhid seperti keadaan orang – orang musyrik dan orang – orang mu’athilah pengkerdil tauhid . . . dengan penjelasan ini maka kita mengetahui bahwa seorang hamba tidak akan menjadi seorang muwahhid sehingga ia menetapkan tauhid seluruhnya ...”.[ Syarh Mukhtashor Ushul Aqoid dari ]
Perhatikanlah rohimakumulloh ! diketahuilah bahwa vonis bid’ah terhadap pembagian tauhidulloh tiada lain adalah untuk melindungi ahlul batil yang menyimpang dalam tauhidulloh sehingga mereka selamat dari hukum syari’ah atas mereka, wallohul musta’an.

WAJIB BERLEPAS DARI IKATAN HIZBIYYAH

Berkata Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim rohimahulloh :

هذا وللمتمسكين بسنة المختار *** عند فساد ذي الأزمـان
أجـر عظيم ليس يقدر قدره *** إلا الذي أعطاه للإنسـان
[ Inilah, dan bagi para pemegang sunnah nabi yang terpilih
Dikala rusaknya zaman demi zaman ( bagi mereka )
Pahala yang besar yang tidak dapat mengukurnya
Melainkan hanya Dzat yang memberi pahala kepada manusia ]
Diatas adalah sekelumit isyarat akan mulianya tegar diatas manhaj salafy terlebih dimasa – masa meraja lelanya manhaj – manhaj baru, manahij hizbiyyah dengan belenggu – belenggu ikatan produk mereka masing – masing untuk mengikat para korbannya.
Berkata Asy Syaikh Al Fadhil Al Muhaddits Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy hafidzohulloh : “ Dan sesungguhnya diantara sunnah jahiliyyah yang paling dimurkai lagi paling parahnya adalah hizbiyyah, para hizbiyyun, mereka telah menghidupkan sunnah jahiliyyah, sementara hizbiyyah adalah sunnah jahiliyyah, iblisiyyah dimana iblis merupakan hizbiy yang perdana ”.[ Adhror Hizbiyyah ( 4 ) ]
Berkata Asy Syaikh Al Fadhil Al Muhaddits Robi’ bin Hadi Al Madkholiy hafidzohulloh : “ Siapa saja yang menyelisihi manhaj Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam serta sunnahnya maka dia termasuk hizbiy yang sesat. Hizbiyyah tidaklah ia memiliki syarat – syarat untuk dihukumi hizbiyyah, Alloh menyebut umat – umat terdahulu sebagai hizb, demikian juga menyebut quraisy sebagai hizb tatkala mereka menyatu dan bergabung dengan mereka kelompok – kelompok lain, mereka ini tidaklah memiliki peraturan baku tidak pula memiliki perkara lain …”.[ Majmu’ Kutub ( 14 / 461 ) dengan perantara Tajliyah ( 5 )]
Kemudian perhatikanlah rohimakumulloh ! akan lebih parah lagi jika sebuah hizbiyyah memiliki peraturan yang mengikat [ tertulis dan terikrarkan atau tidak ], sebab hal itu akan menghalangi seseorang dari mendapatkan hidayah dari Al Qur’an dan As Sunnah.
Berkata Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim rohimahulloh memaparkan syarat – syarat mendapatkan kecukupan dengan dua wahyu Al Qur’an dan As Sunnah yang diantaranya adalah :
وكذاك مشروط بخلع قيودهم *** فقيودهم غل إلى الأذقـان
[ Dan disyaratkan pula ; menanggalkan ikatan - ikatan mereka
Sebab ikatan - ikatan mereka adalah belenggu hingga keleher ]
Penjelasan : Berkata Al ‘Allamah Sholih Al Fauzan hafidzohulloh : “ Syarat kedua adalah menanggalkan ikatan – ikatan yang mereka tetapkan sebab ikatan – ikatan itu menghalangi dari dapat memahami secara benar Al Qur’an dan As Sunnah, tidak lain ikatan – ikatan tersebut adalah buatan mereka sendiri ”.[ Ta’liq Mukhtashor ( 1021 ) ]
Kita nyatakan rohimakumulloh ! ikatan – ikatan tersebut tertulis dan diikrarkan atau tidak sebab apapun itu adalah hizbiyyah sebagaimana ditegaskan oleh Asy Syaikh Robi’ hafidzohulloh diatas. Wallohul Muwaffiq.

MENARA SUNNAH KHATULISTIWA

Artikel-artikel islam ilmiyah dalam Bahasa Indonesia ataupun Bahasa Arab, Insya Allah diasuh oleh Abu Unaisah Jabir bin Tunari