Minggu, 27 Februari 2011

FIKIH SHOLAT : CARA DUDUK TASYAHHUD DLL

1. Letak pembahasan : Cara duduk tasyahhud dalam sholat dua roka’at satu tasyahhud seperti sholat shubuh, sholat jumu’at dan sholat – sholat rowatib.

Ulama berbeda pendapat dalam letak pembahasan ini namun yang rojih adalah duduk secara iftirosy.
Berkata Ibnu Qudamah rohimahulloh : “ kemudian ia duduk tasyahhud yang kedua secara tawarruk ”_ ( kitab Al Muqni’ libni Qudamah dgn Al Mubdi’ 1 / 420 )
Berkata Ibrohim Ibnu Muflih rohimahulloh : “ Berdasarkan hadis Abu Humaid, dimana dia sesungguhnya menyebutkan cara duduk Rasululloh sholallohu ‘alaihi wasallam pada tasyahhud yang pertama adalah secara iftirosy sedang kedua adalah secara tawarruk, ini merupakan penjelasan perbedaan antara keduanya serta riwayat tambahan yang wajib untuk dipegangi. Dengan demikian tidak disunnahkan duduk secara tawarruk kecuali pada sholat yang padanya secara asal terdapati dua tasyahhud yaitu pada tasyahhud yang akhir saja ”_ ( kitab Al Mubdi’ Syarah Al Muqni’ karya Abu Ishaq Ibrohim Ibnu Muflih 1 / 420 ).
Berkata Ali bin Sulaiman Al Mardawiy rohimahulloh : “ ucapan beliau ( Ibnu Qudamah dalam Al Muqni’ ) [ kemudian dia duduk secara iftirosy ] : Ini adalah pendapat madzhab dan dipegangi oleh para pengikut madzhab ”_ ( Al Inshof karya Al Mardawiy 2 / 55 ) dan berkata pada penjelasan yang lain : “ peringatan ! tekstual ucapan beliau ( Ibnu Qudamah dalam Al Muqni’ ) [ kemudian duduk pada tasyahhud kedua secara tawarruk ] : menunjukkan bahwa cara duduk ini pada sholat yang tiga roka’at ( seperti maghrib ) juga pada sholat yang empat rokaat ( seperti dzuhur, ashar dan Isya ), inilah pendapat yang benar dan ini pula pendapat madzhab dan dipegangi oleh pengikut madzhab serta dipastikan akan keshohihannya oleh kebanyakan ulama madzhab ”_ ( Al Inshof 2 / 65 ).
Berkata Abdurrohman bin Nashir As Si’diy rohimahulloh : “ kemudian duduk diatas telapak kaki kiri serta menegakkan telapak kaki kanannya, duduk ini adalah duduk iftirosy. Ia lakukan cara duduk tersebut diseluruh duduknya didalam sholat kecuali pada tasyahhud akhir maka duduk secara tawarruk . . .” dan beliau menegaskan maksud ucapan beliau tersebut dikitab beliau Nurul Bashoir ( 19 ) : “ yaitu ( duduk secara tawarruk tersebut ) pada sholat yang memiliki dua tasyahhud ”_ ( kitab Manhajus Salikin karya Abdurrohman As Si’diy rohimahulloh hal. 63 dgn hasyiyah no. 4 ).
Berkata Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rohimahulloh menjelaskan ucapan penulis Zadul Mustaqni’ : [ kemudian duduk pada tasyahhud akhir secara tawarruk ] : “ dari ucapan beliau [ pada tasyahhud akhir ] dipahami bahwa tidak ada duduk secara tawarruk kecuali pada tasyahhud akhir pada sholat yang memiliki dua tasyahhud, maksudnya tasyahhud akhir yang diikuti setelahnya dengan ucapan salam, hal ini sebagai pengecualian dari duduk tasyahhud akhir yang tidak diikuti ucapan salam sesudahnya seperti duduknya orang yang masbuk disaat imam tawarruk ditasyahhud akhir maka simasbuk ini tidaklah duduk secara tawarruk sebab duduk tasyahhudnya tidak diikuti salam sesudahnya ”_ ( Asy Syarhul Mumti’ karya Muhammad Al Utsaimin 3 / 217 ).
Berkata penyusun catatan ini ‘afallohu ‘anhu : selain hadits Abu Humaid rodhiyallohu ‘anha riwayat Al Bukhoriy ( 828 ) yang diisyaratkan oleh penulis Al Mubdi’ rohimahulloh diatas mungkin juga berdalilkan dengan hadits Aisyah rodhiyallohu ‘anha sbb ;

(( وكان يقول في كل ركعتين التحية وكان يفرش رجله اليسرى وينصب اليمنى )) الحديث أخرجه مسلم

(( dan beliau sholallohu ‘alaihi wasallam melakukan tasyahhud disetiap dua rokaat, beliau duduk secara iftirosy yaitu menghamparkan telapak kaki kirinya dan menegakkan telapak kaki kanannya )) dst riwayat Muslim ( 469 ).
Sisi pendalilannya adalah : bahwa apa yang diberitakan oleh Aisyah rodhiyallohu ‘anha ini adalah tata cara asal dalam setiap duduk didalam sholat ( lihat perkataan Abdurrohman As Si’diy rohimahulloh diatas ) sedang akhir hadis Abu Humaid rodhiyallohu ‘anhu yang berlafadzkan ;

(( وإذا جلس في الركعتين جلس على رجله اليسرى ونصب اليمنى وإذا جلس في الركعة الأخيرة قدم رجله اليسرى ونصب الأخرى وقعد على مقعدته )) رواه البخاري

(( dan jika beliau sholallohu ‘alaihi wasallam duduk pada dua rokaat maka beliau duduk secara iftirosy namun jika duduk pada rokaat yang akhir maka beliau duduk secara tawarruk )) riwayat Al Bukhoriy ( 828 ) adalah mendukung apa yang ditunjukkan oleh hadis Aisyah rodhiyallohu ‘anha bahkan ada lafadz tambahan yaitu tawarruk pada tasyahhud akhir diselain sholat – sholat dua rokaat satu tasyahhud, apa yang ditunjukkan oleh lafadz tambahan ini diisyaratkan oleh penulis Al Mubdi’ rohimahulloh diatas._selesai

والله أعلم وصلى الله على محمد وآله وصحبه وسلم والحمد لله .

Faedah ( I ) : Tata cara duduk setelah sujud sahwi
Berkata Ali bin Sulaiman Al Mardawiy rohimahulloh : “ Apabila sujud sahwi sesudah salam pada sholat - sholat yang tiga atau empat rokaat maka duduk secara tawarruk tanpa diperselisihkan, inilah yang ditegaskan oleh Al Imam Ahmad. Namun jika pada sholat – sholat yang dua rokaat saja maka apakah ia duduk secara tawarruk ataukah iftirosy ? dalam hal ini terdapati dua wajh ( pendapat yang merupakan cabang dari pendapat – pendapat yang ada didalam madzhab dan terkadang ia disebut dengan istilah takhrij ) yang keduanya disebut begitu saja tanpa ada tarjih didalam kitab Al Furu’ ,Ibnu Tamim, Ar Ri’ayatain dan Al Hawiyain sbb ; wajh pertama, duduk secara iftirosy inilah wajh yang shohih. Berkata Al Majd dalam Syarhnya : ini merupakan tekstual dari ucapan al Imam Ahmad, ia juga berkata : inilah yang lebih shohih ..”_ ( Al Inshof 2 / 65 ).
Faedah ( II ) : duduk istirohah yaitu duduk setelah bangun dari sujud kedua pada rokaat pertama ketika hendak bangkit kepada rokaat kedua merupakan letak pembahasan yang didapati perselisihan padanya dikalangan ulama dalam tiga pendapat ; disunnahkan, tidak disunnahkan dan boleh bagi yang lemah atau kepayahan. Ketiga pendapat tersebut juga menjadi tiga riwayat didalam madzhab namun faedah yang akan dipaparkan disini adalah tata cara duduk istirohah tersebut menurut riwayat yang menyatakan disunnahkan atau boleh bagi yang lemah.
Berkata Al Mardawiy rohimahulloh : “ Peringatan ! ucapan beliau ( Ibnu Qudamah dalam Al Muqni’ rohimahulloh ) pada pembahasan duduk istirohah [ duduk pada kedua tumit dengan kedua pantatnya ] didalam tata cara duduk istirohah ini ada beberapa riwayat didalam madzhab sbb ; pertama, apa yang disebutkan oleh penulis ( Ibnu Qudamah ) disini . . . berkata dalam kitab Al Mudzhab : ini merupakan tekstual madzhab. Kedua, bahwa tata cara duduk istirohah adalah seperti tata cara duduk diantara dua sujud ( yaitu secara iftirosy ) ini adalah riwayat yang shohih dalam madzhab yang diprioritaskan didalam kitab Al Furu’. . . ketiga, duduk diatas kedua tumit tanpa menempelkan kedua pantat pada lantai, ini dipilih oleh Al Ajurriy . .”_ ( Al Inshof 2 / 53 ).
Riwayat pertama dari tiga riwayat tata cara duduk istirohah diatas juga dikuatkan oleh Abu Ishaq Ibrohim Ibnu Muflih rohimahulloh dalam Al Mubdi’nya, beliau berkata menjelaskan alasannya : “ Inilah riwayat yang ditegaskan oleh al Imam Ahmad didalam riwayat Al Marrudziy dan dinyatakan oleh Ibnul Jauziy bahwa ini merupakan tekstual madzhab sebab jika duduknya secara iftirosy maka dikhawatirkan akan terjatuh kedalam kelalaian juga untuk membedakan dari duduk diantara dua sujud ”_ ( Al Mubdi’ 1 / 407 ).
Berkata penyusun catatan ini ‘afallohu ‘anhu : tekstual dari ucapan Abdurrohman As Si’diy rohimahulloh dalam Manhajus Salikin dan Nurul Bashoirnya adalah riwayat kedua meskipun secara tekstual beliau tidak berpendapat adanya duduk istirohah ini. Kemudian, dalil yang tegas atau yang mengisyaratkan akan riwayat yang rojih dari tata cara duduk istirohah belum kami dapati maka dalam hal ini terdapat kelapangan dan keluasan yang intinya dihasilkan duduk istirohah menurut riwayat bahwa hal itu disunnahkan atau boleh bagi yang lemah_ wallohu a’lam.
Faedah ke ( III ) : Tata cara duduk wanita didalam sholatnya.
Berkata Abul Qosim Umar bin Husain Al Khiroqiy rohimahulloh dalam mukhtashornya : “ Dan wanita duduk secara bersila atau menjulurkan kedua kakinya disebelah kanannya ”._( Mukhtashor Al Khiroqiy Syarh Al Anshoriy 1 / 102 ) penetapan beliau ini diikuti oleh Ibnu Qudamah dalam Al Muqni’nya, Ibnu Najjar dalam Muntahanya ( 1 / 83 ), Asy Syuwaikiy dalam Taudhihnya ( 310 ) namun keduanya menyatakan bahwa secara menjulurkan kedua kakinya disisi kanannya adalah lebih utama.
Berkata Abu Ishaq rohimahulloh dalam syarah Muqni’nya : “ Ucapan beliau [ dan ia duduk secara bersila ] sebab Ibnu Umar memerintahkan para wanita untuk duduk bersila dalam sholat mereka. Ucapan beliau [ atau menjulurkan kedua kakinya disebelah kanannya ] demikian yang disebut pula dalam kitab al Khiroqiy, al Muharror dan al Madzhab sebab inilah mayoritas cara duduk yang dikerjakan oleh Aisyah rodhiyallohu ‘anha, sebab lainnya bahwa ini lebih menyerupai cara duduknya lelaki serta lebih kuat dalam menyatukan anggota badannya juga lebih mudah dikerjakan dibanding cara bersila. Tekstual dari ucapan beliau bahwa wanita memiliki kebebasan memilih cara duduk dari dua cara ini namun cara duduk dengan menjulurkan kedua kaki disebelah kanannya lebih utama, inilah yang dipilih dalam kitab Syarah Al Hidayah ”._( Al Mubdi’ 1 / 421 – 422 )
Berkata Al Mardawiy rohimahulloh : “ . . . riwayat yang tegas dari al Imam Ahmad bahwa cara duduk dengan menjulurkan kedua kakinya disebelah kanan adalah lebih utama. Inilah yang ditegaskan oleh Ibnu Tamim dan Al Majdi dalam Syarahnya juga dalam kitab Majma’ul Bahroin, ia juga dihikayatkan sebagai satu riwayat dalam kitab Ri’ayatain dan Hawiyain dan dipilih oleh al Khollal dan disebutkan oleh Zarkasyiy tanpa menyebut cara yang lainnya ”._( Al Inshof 2 / 66 )
Berkata penyusun catatan ini ‘afallohu ‘anhu : Adapun riwayat dari Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhuma yang disebut diatas maka dinyatakan lemah oleh Al Albani rohimahulloh sebab didalam sanadnya terdapat Abdulloh bin Umar al Umariy seorang rowi yang lemah ( Ashl Shifat Sholat 3 / 1040 ) Bahkan dalam halaman yang sama beliau menyebutkan bahwa Al Bukhoriy dalam kitabnya Tarikh Shoghir meriwayatkan bahwa Ummu Darda’ rodhiyallohu ‘anha seorang wanita yang faqih ia duduk didalam sholatnya seperti cara duduknya lelaki. Atas dasar ini serta keumuman hadis Malik bin Huwairits rodhiyallohu ‘anhu (( Sholatlah kalian seperti kalian melihat sholatku )) serta keumuman – keumuman syariat yang tidak membedakan lelaki dengan wanita dalam ibadah maka Ibnu Utsaimin rohimahulloh merojihkan bahwa tata cara sholat wanita sama dengan lelaki termasuk cara duduknya dalam ( Asyarhul Mumti’ 3 / 219 ).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENARA SUNNAH KHATULISTIWA

Artikel-artikel islam ilmiyah dalam Bahasa Indonesia ataupun Bahasa Arab, Insya Allah diasuh oleh Abu Unaisah Jabir bin Tunari